{"id":282,"date":"2019-03-08T12:23:02","date_gmt":"2019-03-08T05:23:02","guid":{"rendered":"https:\/\/danamart.id\/blog\/?p=282"},"modified":"2026-03-13T06:12:16","modified_gmt":"2026-03-13T06:12:16","slug":"ekonomi-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/danamart.id\/blog\/ekonomi-indonesia\/","title":{"rendered":"Ekonomi Indonesia"},"content":{"rendered":"\n<p>Setelah dunia\nmelewati krisis besar yang diakibatkan oleh buble nya sektor properti di\nAmerika Serikat pada tahun 2008, perlahan tapi pasti ekonomi dunia kembali\nmenggeliat ditandai dengan semakin bertumbuh pesatnya China pada periode 2009\nsampai 2012. Tetapi apakah ekonomi dunia benar-benar tumbuh? Ataukah hanya\nInflasi dunia yang bertumbuh?<\/p>\n\n\n\n<p>Ternyata setelah\nmelewati krisis sub prime mortgage di tahun 2008, hanya Inflasi dunialah yang\nbertumbuh sebagai akibat dari pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan oleh\nnegara maju atau yang lebih dikenal dengan Quantitative Easing atau QE. QE\nbanyak dilakukan oleh negara maju dimulai dari negara Amerika Serikat, kemudian\ndiikuti oleh Uni Eropa dan Inggris, lalu yang terakhir adalah Jepang dengan\nAbenomics nya. Sedangkan pertumbuhan dunia yang diwakili dengan Pertumbuhan\nDomestik Bruto (PDB) setiap tahunnya sejak tahun 2013 mengalami penurunan, tak\nterkecuali Indonesia yang mengalami penurunan PDB dari level 6% ke 4.6% pada\npertengahan 2015.<\/p>\n\n\n\n<p>*source trading\neconomics*<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi masyarakat\nIndonesia sendiri yang pernah melalui krisis Asia di tahun 1998 lalu kemudian\ndiikuti dengan krisis dunia pada tahun 2008, ada sebuah kepercayaan bahwa\nkrisis ekonomi tersebut adalah sebuah pola yang berulang setiap 10 tahunan\ndimana di estimasikan krisis ekonomi akan terjadi kembali pada tahun 2018. Hal\ninilah yang mengakibatkan pertumbuhan pinjaman tidak naik secara signifikan pada\ntahun 2017 dan adanya kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan.<\/p>\n\n\n\n<p>Krisis ekonomi itu\nsendiri banyak dimulai atau dipicu dengan terjadinya krisis energi atau sering\nkali dinilai dengan turunnya harga minyak mentah dunia, karena kenaikan harga\nminyak mentah dunia itu pada umumnya dikorelasikan dengan pertumbuhan negara di\ndunia. Harga minyak mentah dunia sendiri setelah tahun 2008, telah kembali\nmengalami penurunan terparahnya sampai menyentuh pada level USD 25\/barel pada\nbulan February tahun 2016 dimana pada saat yang bersamaan Amerika Serikat juga\nmenghentikan kebijakan Quantitative Easingnya. Saat ini harga minyak mentah dunia\nsedang berada pada &nbsp;tren kenaikannya\ndimana sudah menyentuh harga USD 70\/barel.<\/p>\n\n\n\n<p>Seiring dengan\nkenaikan harga minyak dunia saat ini, maka pertumbuhan ekonomi atau PDB\nIndonesia sedang berada dalam tren kenaikan yang positif sejak tahun 2008,\ndimana pada tahun 2017 PDB tahunan Indonesia berada pada level 5.12%. Hal ini\njuga diikuti dengan pengelolaan inflasi yang baik pada level rata-rata 3.6% dan\nnilai tukar yang stabil pada level IDR 13,700,- oleh Pemerintah dan Bank\nIndonesia sehingga proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia memiliki outlook yang\nstabil. Terlebih pada tahun 2017, Standar &amp; Poors sebagai lembaga rating\nkredit terbesar di dunia akhirnya memberikan rating sebagai negara Investasi\ndengan outlook stabil untuk Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>*sebutkan sumber*<\/p>\n\n\n\n<p>Dikarenakan keadaan\nekonomi makro Indonesia yang stabil dan juga International Monetary Fund turut\nmemproyeksikan pertumbuhan negara di dunia yang baik dari tahun 2017 sampai\ndengan tahun 2022, maka kekawatiran akan terjadinya krisis ekonomi sepuluh\ntahunan pada tahun 2018 tidak akan terjadi sehingga pada akhir tahun 2018\npermintaan akan pinjaman akan meningkat signifikan dan Dana Pihak Ketiga (DPK)\ndi lembaga keuangan akan mengalami penurunan. Oleh karenanya mulailah bagi anda\npribadi untuk mulai mendanai masa depanmu melalui investasi.<\/p>\n\n\n\n<p>#mendanaimasadepanmu\n#danamart<\/p>\n\n\n\n<p>June 2018<\/p>\n\n\n\n<p>@dAryo<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setelah dunia melewati krisis besar yang diakibatkan oleh buble nya sektor properti di Amerika Serikat&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":6567,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-282","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/282","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=282"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/282\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6568,"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/282\/revisions\/6568"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6567"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=282"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=282"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=282"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}