{"id":247,"date":"2019-02-11T16:56:39","date_gmt":"2019-02-11T09:56:39","guid":{"rendered":"https:\/\/danamart.id\/blog\/?p=247"},"modified":"2026-03-13T06:20:34","modified_gmt":"2026-03-13T06:20:34","slug":"fintech-berperan-menjadi-penetrasi-dan-inklusi-ekonomi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/danamart.id\/blog\/fintech-berperan-menjadi-penetrasi-dan-inklusi-ekonomi\/","title":{"rendered":"Fintech Berperan Menjadi Penetrasi Dan Inklusi Ekonomi"},"content":{"rendered":"\n<p>Menurunkan kesenjangan sosial dan ekonomi sebenarnya bisa diakali melalui digital ekonomi, baik yang dilakukan oleh industri fintech maupun perbankan konvensional.<\/p>\n\n\n\n<p>Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)\/Kepala Bappenas Bambang P Brodjonegoro menyebut, hanya 10% dari seluruh penduduk di desa yang memiliki akses kepada keuangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bandingkan dengan penetrasi ponsel. Hingga 2016 saja, jumlah penduduk di desa yang punya ponsel\u2014baik pintar maupun nonpintar\u2014sudah mencapai 70,16%. Meskipun, 13 dari 34 provinsi di Indonesia masih memiliki jaringan telekomunikasi yang mandek (data Susenas, 2018).<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSalah\nsatu cara memang harus perkuat akses informasi teknologi (IT) dan kemudian\nmembiasakan masyarakat terekspos dengan keuangan digital. Sebab, penetrasi\ndigital dan keuangan memang harus diakui sangat jauh sekali,\u201d kata Bambang. Agar\npemerintah tak ketinggalan dengan&nbsp;<em>fintech,&nbsp;<\/em>Bambang menyebut\njajaran otoritas terkait akan terus mendorong perbankan konvensional untuk\nterus berinovasi pada fitur&nbsp;<em>mobile banking-<\/em>nya.<\/p>\n\n\n\n<p>Wakil Direktur Departemen Strategi dan Pengetahuan&nbsp;<em>International Fund for Agricultural Development&nbsp;<\/em>(IFAD) Paul Winters menuturkan, pemerintah perlu melihat peluang pada penetrasi ponsel di perdesaan. \u201cTeknologinya sudah ada, tinggal bagaimana menggalinya. Peluangnya di sana. Pemerintah Indonesia bisa sangat untung dengan ini,\u201d ucap Winters. Penyaluran dana desa misalnya, sambung Winters, bisa dilakukan secara langsung pemerintah melalui aplikasi digital. \u201cTransfer dana ini sangat membantu masyarakat, akan tetapi masyarakat tetap butuh peluangnya sendiri untuk mengembangkan bisnis mereka,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak\nbanyak juga pemerintah daerah yang mulai memanfaatkan potensi dalam hal\npenetrasi ponsel di perdesaan. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mungkin hanya\nsatu dari sedikit di antaranya. Pada rangkaian agenda yang sama di Kuta, Bali,\npria yang biasa disapa Emil ini menuturkan, kesenjangan yang terjadi di daerah\nterpencil dengan perkotaan sangat nyata terlihat. Namun, satu hal yang bisa\nmenyatukan keduanya adalah digitalisasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Inovasi Emil boleh diapresiasi. Dalam waktu dekat, pihaknya berencana memberikan fasilitas aplikasi perdagangan daring (<em>online<\/em>) untuk para petani, nelayan, serta peternak di Jawa Barat. Fungsi aplikasi ini adalah memotong mata rantai perdagangan konvensional yang selama ini menghambat kesejahteraan petani. \u201cIni akan merevolusi keuntungan bagi petani, peternak, petambak, dan nelayan juga, kira-kira begitu. Sistem perdagangannya sedang disiapkan, nanti kerja sama dengan Tokopedia atau Bukalapak, jadi mereka nanti akan jualan produk-produk pertanian,\u201d jelas Emil. <\/p>\n\n\n\n<p>Aplikasi\nyang disiapkannya ini menjadi bagian dari rencana besar dalam menciptakan Desa\nDigital di Jawa Barat. \u201cBukan cuma urusan&nbsp;<em>wifi-wifi<\/em>,\ntapi bagaimana kita mengubah cara berdagang, berkomunikasi, memetakan potensi,\nhingga mempromosikan wisata desanya melalui digital ekosistem,\u201d sambungnya.<\/p>\n\n\n\n<p>\u00a0Sumber\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : <a href=\"https:\/\/beritagar.id\/artikel\/laporan-khas\/teknologi-keuangan-ancaman-atau-peluang\">https:\/\/beritagar.id\/artikel\/laporan-khas\/teknologi-keuangan-ancaman-atau-peluang<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>By: Mardiana<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menurunkan kesenjangan sosial dan ekonomi sebenarnya bisa diakali melalui digital ekonomi, baik yang dilakukan oleh&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":6578,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-247","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/247","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=247"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/247\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6579,"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/247\/revisions\/6579"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6578"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=247"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=247"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/danamart.id\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=247"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}