Investasi tidak harus tunggu masa tua

Percaya atau tidak, Investasi itu Mandiri dan Bertanggung Jawab

Pada dasarnya, Investasi adalah aktivitas seseorang memasukkan dana ke dalam instrument investasi dalam suatu periode tertentu, guna mempersiapkan diri di masa depan. Investasi bisa dalam bentuk pendidikan, persiapan menikah, membeli rumah idaman dan sebagainya. Hal yang membedakan Investasi dengan tabungan adalah, Investasi bisa menghasilkan keuntungan karena adanya peningkatan nilai terhadap investasi itu sendiri.

Tetapi ternyata, masih banyak orang yang takut dalam berinvestasi karena

  1.  Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat (khususnya generasi millennials) terhadap investasi juga masih kurang
  2. Minimnya Pengetahuan tentang Investasi yang aman
  3. Kurangnya ketertarikan generasi baru atas pengaruh instrument investasi.

Padahal, sebenarnya, kita tidak harus menunggu masa tua atau saat keuangan mapan untuk berinvestasi. Di saat usia muda pun kita juga bisa berinvestasi untuk kehidupan yang lebih baik. Investasi sebenarnya adalah bentuk tanggung jawab kita dalam menjaga uang. Terlepas dari uang yang kita dapat itu berasal dari keluarga, setidaknya dengan berinvestasi, kita sudah memiliki pegangan uang kita sendiri. Kita juga menjadi percaya diri dan mandiri terhadap keuangan kita sendiri.

Saatnya berpikir simple, Bayangkan juga saat kamu mungkin baru lulus kuliah, belum dapat pekerjaan dan masih harus meminta uang ke keluarga atau teman?

Bayangkan juga di saat, tabungan kamu menipis, sehingga kamu tidak mampu untuk membeli jajan, barang branded atau gadget yang kekinian. Belum lagi, kamu juga tidak bisa membayar tagihan uang kos. Dan ujung – ujungnya kita masih harus meminta uang dari keluarga?

Inilah saatnya, kita sebagai generasi millennial harus berpikir cerdas. Kali ini, Danamart akan share tips – tips untuk berinvestasi dengan baik;

  1. Carilah Informasi seputar dunia Investasi

Saat ini penting untuk kamu, generasi millennials, untuk mengetahui kondisi keuanganmu. Di saat mungkin kamu belum memiliki penghasilan, kamu juga pasti harus memikirkan berapa dana yang harus kamu keluarkan dalam investasi. Setidaknya, pikirkan secara matang jenis investasi yang kamu ingin lakukan. Apa ini dalam bentuk investasi jangka pendek atau panjang?

Lalu apa tujuan mu melakukan investasi? Membeli gadget terkini, belanja shopping, travelling dengan teman – teman? atau mungkin untuk kebutuhan di masa depan, yaitu menikah, membeli mobil atau motor, menyewa apartemen atau membangun rumah idaman?

2. Mulai Investasi Sejak Dini

Setelah, kamu mengetahui kondisi keuanganmu, perhatikan berapa dana yang akan kamu keluarkan untuk berinvestasi. Pada umumnya, berinvestasi memang butuh banyak dana yang disetorkan demi mendapatkan keuntungan lebih.

Tetapi, saat kita masih menjadi investasi pemula, kita juga tidak perlu mengeluarkan setoran uang banyak. Saat ini banyak perusahaan fintech berbasis peer – to – peer (P2P) lending, seperti Danamart yang mengajak masyarakat untuk berinvestasi awal dengan menyetor Rp, 100.000 (100 Ribu Rupiah). Nilai setoran yang cukup terjangkau ini bisa memudahkan millennial untuk melakukan kegiatan investasi P2P Lending

3. Manfaatkan Dana untuk membantu pelaku UMKM

Dalam berinvestasi P2P Lending, investor memiliki keluasaan untuk memilih calon peminjam berdasarkan informasi credit scoring yang di publish dalam website suatu organisasi fintech berbasis peer – to – peer lending. Selain itu, Produk investasi yang ditawarkan oleh organisasi P2P Lending juga bersifat sosial, karena dapat membantu suatu kondisi masyarakat.

Contohnya, Saat ini banyak perusahaan P2P Lending menawarkan jenis produk investasi untuk membantu proses transaksi bisnis UMKM

Kenapa yang difokuskan UMKM?

Seperti yang kita ketahui, UMKM adalah salah satu kontributor terhadap perkembangan perekonomian Indonesia. Dengan membantu UMKM dalam mensejaterahkan proses bisnis nya, hal ini akan berpengaruh pada pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Negara.

Salah satu perusahaan P2P Lending yang mendukung kesejahteraan UMKM adalah Danamart.

Danamart menawarkan dua produk yaitu invoice financing dan purchase order financing yang memberikan kemudahan bagi para UMKM untuk menjadi peminjam dan pendana melalui website kami. Dalam fitur Danamart, kami memberikan informasi mengenai produk serta hasil analisa pinjaman berdasarkan credit scoring grade kami.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan email kami di support@danamart.id atau hubungi kami lewat telepon di 021 – 255556719

By: Sekar Chika

References:

  1. https://www.kompasiana.com/kelompok5top/5a0272ae9b1e67146d033532/masa-depan-industri-keuangan-dan-perbankan-di-era-digital-ekonomi?page=all
  2. https://finansial.bisnis.com/read/20181103/55/856096/mau-jadi-investor-di-fintech-lending-begini-strateginya-biar-aman

UMKM Go Online jadi peluang bisnis digital di Tanah Air

Saat ini, trend e – commerce atau sektor dagang online sedang marak di Indonesia. Diharapkan, trend ini akan terus tumbuh di negara kita, apalagi dengan penggunaan internet yang selalu tumbuh dan adanya 260 jiwa populasi di Indonesia dan meleknya generasi millennial terhadap internet. Infrastruktur e – commerce ini pun sudah menjadi salah satu target pemerintah untuk mengembangkan potensi ekonomi digital tanah air.

Hal ini terbukti dengan Pemerintah juga mentargetkan berdirinya 8 juta UMKM di Indonesia sudah bisa menggunakan jasa internet pada tahun 2020. Tetapi, sepertinya pemerintah patut bekerja keras untuk mengembangkan UMKM secara digital. Karena, menurut, Pengamat Ekonomi Digital, Yudi Candra menjelaskan UMKM di Indonesia yang baru ‘Go Digital’ hanya sekitar 5%, yang artinya hanya sekitar 5% UMKM yang dapat melakukan transaksi online

“Masih banyak [ Pelaku UMKM] yang belum membuat medsos, bahkan sudah ada yang mempunyai akun tetapi belum mengoperasikan sosmed ini.” lanjut Yudi Candra.  

Ia juga mengkhawatirkan bagaimana para UMKM dapat mempromosikan produk dan service mereka apabila tidak menggunakan medsos yang sedang marak saat ini. Jangan sampai para UMKM ini juga ketinggalan trend e – commerce.

Lalu, apa yang menyebabkan hal ini terjadi?

Sebenarnya, hal ini juga pernah dibahas oleh Staf khusus Menteri Ekonomi dan UKM, Agus Muharram. Ia mengungkapkan bahwa masih ada UMKM yang belum Go – Digital dikarenakan pengetahuan ekonomi digital masih cukup rendah di kalangan pelaku UMKM. Maka dari itu, diperlukan program yang dapat memperkenalkan UMKM dengan ekonomi digital.

Hal ini lah yang menyebabkan adanya pencanangan Gerakan 100,000 Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) Go Online, yang diadakan di Creative Space Galeri Indonesia Wow, Gedung SMESCO UKM. UMKM Go Online ini direncanakan akan dilakukan secara serentak di 30 kota/kabupaten. Pencanangan ini sesuai dengan salah satu visi dari Presiden Joko Widodo agar menjadikan Indonesia sebagai negara “Digital Energy of Asia”.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengharapkan dengan adanya rumusan kebijakan ekonomi digital  dapat menjembatani Fintech dan Perbankan. Ia mengungkapkan ini pada kesempatan acara syukuran ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) yang ke – 64 tahun.

Danamart adalah perusahan fintech berbasis peer to peer lending yang mendukung adanya UMKM yang bergerak secara online. Kami berharap dengan adanya UMKM “Go Online” ini dapat mengembangkan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Dalam fitur kami, kami menawarkan solusi terjangkau dimana para pelaku UMKM dapat menjadi pendana maupun peminjam secara online demi kelancaran bisnis mereka. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perusahaan kami, silahkan hubungi call center (+62) 21 2555 6719 dan mengirimkan email di support@danamart.id

By: Sekar Chika

References

  1. https://www.merdeka.com/teknologi/kontribusi-bisnis-e-commerce-indonesia-dan-problem-laten-ukm.html
  2. https://www.liputan6.com/bisnis/read/3582327/baru-9-persen-umkm-ri-yang-masuk-e-commerce
  3. https://www.kominfo.go.id/content/detail/9514/umkm-go-online-upaya-wujudkan-visi-digital-energy-of-asia/0/berita_satker
  4. https://www.cnbcindonesia.com/news/20190128100358-4-52596/gubernur-bi-umkm-go-digital-why-not

l

Trend ‘Investasi Digital’ Beri Kemudahan untuk Masyarakat

Source: Radar Malang

Kita pasti pernah mendengar atau melihat orang – orang di sekitar kita yang belum tertarik untuk melakukan investasi. Bahkan, mungkin bisa saja kita sendiri yang belum memiliki keinginan untuk berinvestasi terlepas dari mengerti nya seseorang bahwa investasi itu penting karena uang yang diakumulasikan dalam investasi dapat berguna untuk masa depan.

Sebenarnya, alasan mengapa orang belum tertarik dengan investasi bukan hanya karena mereka tidak tertarik, melainkan karena terlalu banyak informasi mengenai investasi yang membuat kita menjadi bingung dan butuh arahan untuk melakukan investasi dengan baik. Mereka juga belum sepenuhnya mengerti secara murni, fungsi penting. Masih ada beberapa orang yang berpikir, “Kalau ini belum menjadi kebutuhan penting saya, kenapa saya harus berinvestasi?”

Banyak masyarakat yang tidak menginginkan untuk melakukan investasi dengan proses yang panjang dan rumit. Terkadang, mereka juga tidak ingin meluangkan waktu dan biaya untuk menemui expert untuk berkonsultasi dengan mengenai produk investasi terbaik. Kalau bisa, masyarakat ingin melakukan investasi secara mudah dan simple. Bagi masyarakat, terdapat dua (2) hal yang menjadi basis penting untuk melakukan investment, yaitu

  1. Akumulasi biaya untuk kebutuhan masa depan, seperti, pensiun
  2. Sumber hasil pendapatan

Hal ini menyebabkan masyarakat akhirnya ‘berlari’ menuju akses digital.

Berdasarkan informasi dari Heba Rasheed, salah satu penulis dari website BobsGuide, saat ini sudah tercatat 30 – 35% masyarakat ingin melakukan investasi melalui akses digital dibandingkan harus mendapat informasi dari keluarga dan teman, interaksi mulut ke mulut atau lainnya. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan yang bergerak di bidang investasi harus meningkatkan kemampuan pemasaran digital, serta memenuhi permintaan dan minat klien.

“Tetapi, apa yang sebenarnya menyebabkan masyarakat memilih untuk melakukan investasi secara digital?”

“Bukankah investasi yang didasarkan dari informasi dari keluarga dan teman atau interaksi mulut ke mulut lebih terpercaya?”

Ternyata, hal yang menyebabkan masyarakat lebih memilih akses investasi secara digital karena akses digital memudahkan mereka untuk mendapatkan informasi mengenai produk investasi, serta memberikan rekomendasi kepada investor tanpa mereka harus meluangkan waktu dan biaya untuk berkonsultasi dengan expert. Investasi secara digital memudahkan orang untuk berinteraksi dengan orang lain secara online tanpa harus menghabiskan waktu mereka. Contohnya, BukaLapak  membuka fitur BukaReksa dan BukaEmas, menyediakan fasilitas bagi masyarakat untuk melakukan investasi Reksadana dan jual beli emas melalui login online

Dengan adanya ketertarikan masyarakat terhadap akses digital, hal ini menyebabkan adanya perkembangan bagi financial technology atau yang disebut dengan fintech karena aktivitas masyarakat akan bergeser ke penggunaan teknologi termasuk dalam aktivitas keuangan.

Salah satu fintech yang memberikan kemudahan bagi masyarakat adalah Danamart.Danamart menyediakan fitur Pendana dimana masyarakat dapat berinvestasi melalui website kami. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perusahaan kami, silahkan hubungi  call center (+62) 21 2555 6719  dan mengirimkan email di support@danamart.id

By: Sekar Chika

References:

  1. https://www.bobsguide.com/guide/news/2018/Feb/6/the-future-direction-of-digital-investing/
  2. https://medium.com/@Sere691/the-future-of-digital-investing-simple-and-human-solutions-4bb3e442da0c
  3. https://www.kompasiana.com/ilhambarseptember/5a032c63a4b068498e3b1133/trend-bisnis-dan-investasi-dalam-digital-money?page=all

Fintech Danamart Gandeng Milenial Malang Sosialisasi Modal Kerja Era Digital

MALANG – Perkembangan teknologi melalui kemajuan di dunia fintech (teknologi keuangan) membuat konsep bisnis mengalami perubahan. Termasuk dalam hal mendapatkan akses pembiayaan modal kerja. “Dengan fintech, kesulitan modal kerja kini dapat diatasi. Tanpa harus memiliki jaminan aset. Dengan efisiensi layanan keuangannya, tak heran jika fintech saat ini diterima masyarakat,” ujar CEO Danamart Patrick Gunadi dalam acara “Modal Kerja Era Digital”, dengan salah satu pembicaranya Manager BINUS Fabyo Bagus Perwira, di kampus BINUS Malang, belum lama ini.


Menurut Patrick, menjalankan bisnis di era digital terbilang mudah walau harus tetap memahami konsep berbisnis yang baik. Sumber pendanaan pun saat ini bisa didapatkan tanpa harus ada jaminan aset, “pelaku bisnis dapat mendapatkan modal kerja hanya dengan menjaminkan invoice financing dan purchase order financing. Dengan dua layanan ini, peminjam mendapatkan benefit kelancaran operasional dan pengembangan usaha. Tidak perlu lagi menunggu pencairan invoice dari klien agar modal usaha dapat berputar kembali.”
Ia berharap agar dengan adanya kegiatan ini akan semakin banyak generasi muda di Malang yang menjalankan bisnis guna mendorong pertumbuhan ekonomi.  “Kegiatan hasil kerjasama BINUS dan Danamart di Malang ini menstimulus minat anak-anak muda untuk memanfaatkan peluang bisnis di era startup. Jangan takut lagi dengan modal dan pusing setelah mendapatkan order karena tidak memiliki modal kerja. Karena salah satu tujuan fintech seperti Danamart adalah memudahkan akses pembiayaan UMKM agar bisnisnya terus berkembang dan memiliki dampak bagi lingkungan setempat,” tutupnya.

Source:
http://www.jurnalmalang.com/2019/03/fintech-danamart-gandeng-milenial.html


APKOMINDO GANDENG DANAMART PERKENALKAN FINTECH KEPADA ANGGOTA

Sumber: Apkomindo

Perkembangan teknologi yang disruptif telah menyentuh sebagian besar aspek kehidupan. Terutama dalam era Industri 4.0 ini, inovasi-inovasi baru berbasis teknologi semakin tak terbendung, tak terkecuali dalam bidang keuangan atau yang biasa disebut financial technology (fintech). Geliat sektor fintech di Indonesia telah merambah ke berbagai sektor, seperti startup pembayaran, peminjaman (lending), pembiayaan (crowdfunding), uang elektronik, dan lain-lain.

Salah satu industry fintech lending yang ada di Indonesia adalah Danamart. Danamart menfokuskan diri pada pembiayaan untuk UKM. Dan untuk lebih memperkenalkan industri fintech ini, APKOMINDO bekerjasama dengan Danamart menghadirkan satu acara sharing session dengan mengundang anggota-anggota APKOMINDO.

Rudy D. Muliadi selaku Ketua Umum APKOMINDO membuka acara yang digelar pada hari Sabtu, 30 Maret 2019 di kantor sekretariat yang beralamat di Harco Mangga Dua blok I no 28. Selepas pembukaan dilanjutkan dengan sedikit testimoni dari Henky Tjokroadiguno yang telah bergabung dengan Danamart.

Selanjutnya, giliran CEO Danamart, Patrick Gunadi berbicara memperkenalkan Danamart kepada para undangan yang hadir. “Target kami adalah UMKM yang sudah berdiri di atas 2 tahun dan mempunyai invoice atau pre-order terhadap perusahaan seperti BUMN, BUMD, multinasional, perusahaan publik, atau perusahaan konglomerasi,” ujarnya.

Pengusaha tidak perlu khawatir karena Danamart telah mendapatkan bukti terdaftar dari Otoritas Jasa Keuangan. Sharing session yang dihadirkan APKOMINDO kali ini dihadiri sekitar 25 orang yang mewakili perusahaan-perusahaan member APKOMINDO.

Source:
https://apkomindo.info/apkomindo-gandeng-danamart-perkenalkan-fintech-kepada-anggota/

Skema Invoice Financing Danamart Turut Bantu Pembangunan Infrastruktur

Indonesia tengah mengejar ketertinggalan pembangunan infrastruktur dalam beberapa tahun terakhir. Proyek-proyek infrastruktur di berbagai penjuru Tanah Air dibangun secara masif, mulai dari jalan tol, jembatan, bendungan, hingga bandara.

Sebagai pelaku fintech peer-to-peer lending, Danamart juga turut membantu pembangunan dengan mengucurkan kredit pembiayaan senilai Rp 2 Miliar rupiah kepada PT Krisma Watu Land, salah satu sub kontraktor resmi BUMN Karya di proyek pembangunan bandara Kulon Progo. Pengucuran kredit yang terbagi dalam tiga tahap tersebut dipergunakan untuk modal kerja pengerjaan salah satu bagian konstruksi penunjang bandara.

Selaku borrower PT Krisma Watu Land memilih layanan invoice financing yang dimiliki Danamart. Menurut, CEO Danamart Patrick Gunadi layanan invoice financing merupakan pembiayaan usaha dengan invoice sebagai jaminan. Dengan mengoptimalisasi invoice menjadi jaminan, Krisma Watu Land selaku borrower memiliki benefit berupa kelancaran operasional dan pengembangan usaha. “Jadi tidak perlu lagi menunggu pencairan invoice dari klien, dengan begitu modal usaha dapat berputar kembali,” kata Patrick dalam siaran persnya.

Lebih lanjut Patrick mengatakan credit scoring Krisma Watu land masuk dalam kategori aman dengan persyaratan yang lengkap, pencairan dana hanya membutuhkan waktu 3 hari. “Penyaluran pinjaman ini sesuai dengan misi Danamart yakni berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan turut mensukseskan program pembangunan infrastruktur pemerintah melalui pengucuran kredit bagi borrower yang mendapatkan pengerjaan proyek infrastruktur dengan bunga yang kompetitif,” tutur Patrick.

Danamart, layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi yang mulai beroperasi tahun 2018, telah menyalurkan pinjaman usaha hingga Rp 20 miliar. Kucuran ini meliputi pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) dari seluruh Indonesia. Ditargetkan nilai kucuran ini tumbuh 10 kali lipat pada tahun akhir 2019.

Editor: Eko Adiwaluyo

References: https://marketeers.com/skema-invoice-financing-danamart-turut-bantu-pembangunan-infrastruktur/

Pembiayaan Lewat Fintech Berpotensi Tumbuh Pesat di Semarang


Foto: istimewa
Foto: istimewa

SEMARANG, suaramerdeka.com – Perkembangan pesat dunia fintech (teknologi keuangan) membuat akses permodalan bagi startup dan pelaku UMKM semakin terbuka luas. Kini tanpa harus mengagunkan aset, pemiliki usaha semakin mudah mengembangkan bisnisnya. Hal ini karena efisiensi layanan fintech dan diterima baik oleh masyarakat.

Hal tersebut diungkapkan Chief Information Officer Danamart Darda Adnan Pritama dalam acara “Modal kerja Era Digital” di Binus Semarang, belum lama ini yang dihadiri kalangan UMKM dan mahasiswa. Menurutnya perkembangan teknologi informasi membuat konsep bisnis mengalami perubahan. Saat ini menjalankan bisnis di era digital terbilang mudah walau harus tetap memahami konsep berbisnis yang baik.

Pelaku bisnis mendapatkan modal kerja hanya dengan menjaminkan invoice financing dan purchase order financing. Dengan dua layanan ini, peminjam mendapatkan benefit kelancaran operasional dan pengembangan usaha. Tidak perlu lagi menunggu pencairan invoice dari klien agar modal usaha dapat berputar kembali.

Ia berharap agar dengan adanya kegiatan ini akan semakin banyak generasi muda di Semarang menjalankan startup bisnis guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Karena sebagai kota besar di Jawa, potensi pertumbuhan ekonomi digital di Semarang amat potensial.

“Kegiatan hasil kerjasama Binus dan Danamart di Semarang ini menstimulus minat anak-anak muda untuk memanfaatkan peluang bisnis di era startup. Jangan takut lagi dengan modal dan pusing setelah mendapatkan order karena tidak memiliki modal kerja. Karena salah satu tujuan fintech seperti Danamart adalah memudahkan akses pembiayaan UMKM agar bisnisnya terus berkembang dan memiliki dampak bagi lingkungan setempat,” tutupnya.


(Andika Primasiwi/CN26/SM Network)

Source: https://www.suaramerdeka.com/news/baca/177135/pembiayaan-lewat-fintech-berpotensi-tumbuh-pesat-di-semarang

Era Fintech sebagai “One – Top Shop” untuk para Millenials

Dulu, setiap orang pasti pernah mengalami masa dimana mereka harus memindahkan dana nya melalui berbagai perantara, mulai dari sistem barter (menukarkan barang dan jasa), lalu dari mulai terbentuk nya koin dan uang kertas hingga sampai akhirnya terbentuk nya Bank yang menyediakan kartu debit atau kredit dan pembentukan ATM (Automatic Teller Machine), seperti yang tercantum dari gambar di bawah ini:

Source: Danamart

Tetapi, tahukah kamu?

Kalau di era yang semakin berkembang pesat saat ini, masyarakat membutuhkan sistem pembayaran yang efisien, cepat dan nyaman?

Efisiensi waktu membuat masyarakat menghindari interaksi tatap muka (face – to – face interaction) di saat ada cara yang lebih efisien untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan secara mudah. Kita bisa melihat bahwa masyarakat membutuhkan disrupsi, yaitu perubahan yang menghadirkan masa depan di masa kini. Masyarakat membutuhkan sistem pembayaran yang aman dan terpecaya dimana mereka dapat akses dimana saja. Nah, disini lah masa dimana dunia Fintech berkembang

Apa itu Fintech?

Menurut PricewaterhouseCoopers (PWC), Fintech atau yang disebut dengan Financial Technology adalah gabungan dari jasa finansial dengan teknologi. Proses Fintech sendiri adalah menggantikan jasa manusia dengan jasa teknologi dengan menggunakan data dan algoritma tertentu untuk menentukan dimana seseorang bisa memindahkan atau memasukkan dana. Saat ini sudah banyak perusahaan atau institusi yang menyediakan jasa finansial dan perbankan berani berinvestasi untuk membentuk Fintech demi kelancaran transaksi individual.

Berkembang nya era digital fintech ternyata telah dirasakan oleh generasi Millenials. Menurut, Harvard Business School, generasi Millenials melihat era digital ini sebagai “One Top Shop” karena dianggap dapat melayani berbagai masalah pembayaran Millenial, contohnya, era Fintech menawarkan informasi terupdate secara instant yang memudahkan generasi ini untuk memeriksa akun bank mereka, mengambil pinjaman dengan mudah atau mentransfer uang keluar kota maupun negeri dengan satu kali sentuhan melalui aplikasi teknologi. Lagipula, generasi Millenial sudah terbiasa dengan perkembangan teknologi sehingga memudahkan institusi dan perusahaan yang berbasis Fintech untuk menyediakan solusi teknologi yang flexible yang terbuka demi memenuhi keinginan masyarakat.

Salah satu fintech yang memberikan kemudahan bagi masyarakat adalah Danamart. Menyasar segmen UMKM, Danamart menawarkan layanan Invoice Financing dan Purchase Order Financing. Invoice financing Ini merupakan pembiayaan usaha dengan invoice sebagai jaminan, optimalisasi invoice menjadi jaminan memiliki benefit kelancaran operasional dan pengembangan usaha. Tidak perlu lagi menunggu pencairan invoice dari klien agar modal usaha dapat berputar kembali. Layanan invoice financing cukup bersahabat dengan mitra UMKM dan UKM jika dibandingkan dengan meminjam di layanan keuangan konvensional yang pasti membutuhkan jaminan aset dan proses yang cukup memakan waktu.

Untuk memutar dana usaha, layanan Purchase Order financing adalah salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan. Ini merupakan jalan keluar untuk menyeimbangkan arus kas dan masalah pada pembiayaan usaha UMKM. Contohnya begini, jika kita mendapatkan permintaan dari pelanggan dan PO sudah keluar, namun belum memiliki dana untuk memenuhi order tersebut, maka PO financing adalah solusinya. Cukup dengan menjaminkan PO tersebut ke Danamart, maka UMKM sudah dapat memenuhi permintaan pelanggan.

Sebagai mitra UMKM, Danamart amat mengerti kebutuhan UMKM. Untuk itu, di Danamart calon peminjam dapat melakukan simulasi pinjaman agar mendapatkan estimasi bunga dari pinjaman tersebut. Atau dapat menghubungi call center (+62) 21 2555 6719  dan support@danamart.id untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

By: Sekar Chika

Industri Yang Mendukung Pertumbuhan Indonesia

Sebagai salah satu negara berkembang yang berpotensi masuk di dalam 10 besar pertumbuhan dunia pada tahun 2040, maka Indonesia saat ini sedang berbenah dari negara yang menghasilkan barang tambang menjadi negara yang dapat juga menghasilkan industri manufaktur. Mendekati periode akhir orde baru pada pembangunan lima tahun keempat dan kelima sebenarnya industri manufaktur sudah bertumbuh dan memberikan kontribusi positif bagi pertumbuhan Indonesia selain tentunya sektor barang tambang yang turut memberikan kontribusi positif pada pertumbuhan Indonesia pada masa itu.

Terjadinya krisis ekonomi di Asia pada tahun 1998 yang sangat berimbas langsung terhadap pertumbuhan Indonesia dimana pada saat itu angka inflasi sampai menyentuh diatas 20% dan pelemahan Indonesia Rupiah terhadap Dollar Amerika sampai dengan 600% atau pada level IDR 17500, dan Indonesia mengalami pertumbuhan negatif yakni Pendapatan Domestik Bruto minus 13.13%. Akibat dari krisis ekonomi asia ini membuat banyak perbankan dan industri manufaktur di Indonesia gulung tikar. Pada saat itu banyak banyak sekali barang modal di Indonesia terkena likuidasi dan bahkan dana modal keluar dari Indonesia. Setelah masa krisis Asia tahun 1998 dan melewati juga krisis dunia pada tahun 2008 dimana ekonomi Indonesia terus bertumbuh ternyata berdasarkan presentasi menteri keuangan pada bulan Juli tahun 2014 pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih banyak didukung oleh sektor perdangangan dan migas, dan output industri manufaktur sendiri belum dapat mengalahkan output industri manufaktur pada tahun-tahun menjelang krisis 1998. Dimana salah satu faktor utamanya adalah traumatis pengusaha atau investor Indonesia belumlah pulih 100%, ditambah lagi dengan tingginya biaya produksi di Indonesia sebagai akibat dari pelannya pembangunan infrastruktur.

Melihat hal ini maka semenjak tahun 2010 pemerintah Indonesia telah lebih menggalakkan pembangunan infrastruktur dan mempermudah kebijakan investasi terutama kepada investasi pada industri manufaktur sehingga industri manufaktur sejak tahun 2010 sampai dengan tahun 2019 ini telah bertumbuh sebesar 44.59% atau sebesar 54 triliun rupiah. Selain daripada fokus pemerintah kepada industri manufaktur, maka adalah suatu kenyataan yang tak dapat dipungkiri bahwa meningkatnya penduduk Indonesia di kemudian harilah yang akan mendukung Indonesia untuk masuk dalam 10 ekonomi terbesar didunia dimana saat ini juga dipermudah akselerasi pertumbuhannya dengan aplikasi berbasis teknologi informasi maka sektor barang konsumsi akan memiliki pertumbuhan yang cukup stabil didalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia pada saat ini dan masa yang akan datang.
Sumber data PDB 1998 PDB manufaktur


@dAryo

Ekonomi Indonesia

Setelah dunia melewati krisis besar yang diakibatkan oleh buble nya sektor properti di Amerika Serikat pada tahun 2008, perlahan tapi pasti ekonomi dunia kembali menggeliat ditandai dengan semakin bertumbuh pesatnya China pada periode 2009 sampai 2012. Tetapi apakah ekonomi dunia benar-benar tumbuh? Ataukah hanya Inflasi dunia yang bertumbuh?

Ternyata setelah melewati krisis sub prime mortgage di tahun 2008, hanya Inflasi dunialah yang bertumbuh sebagai akibat dari pelonggaran kebijakan moneter yang dilakukan oleh negara maju atau yang lebih dikenal dengan Quantitative Easing atau QE. QE banyak dilakukan oleh negara maju dimulai dari negara Amerika Serikat, kemudian diikuti oleh Uni Eropa dan Inggris, lalu yang terakhir adalah Jepang dengan Abenomics nya. Sedangkan pertumbuhan dunia yang diwakili dengan Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya sejak tahun 2013 mengalami penurunan, tak terkecuali Indonesia yang mengalami penurunan PDB dari level 6% ke 4.6% pada pertengahan 2015.

*source trading economics*

Bagi masyarakat Indonesia sendiri yang pernah melalui krisis Asia di tahun 1998 lalu kemudian diikuti dengan krisis dunia pada tahun 2008, ada sebuah kepercayaan bahwa krisis ekonomi tersebut adalah sebuah pola yang berulang setiap 10 tahunan dimana di estimasikan krisis ekonomi akan terjadi kembali pada tahun 2018. Hal inilah yang mengakibatkan pertumbuhan pinjaman tidak naik secara signifikan pada tahun 2017 dan adanya kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) di perbankan.

Krisis ekonomi itu sendiri banyak dimulai atau dipicu dengan terjadinya krisis energi atau sering kali dinilai dengan turunnya harga minyak mentah dunia, karena kenaikan harga minyak mentah dunia itu pada umumnya dikorelasikan dengan pertumbuhan negara di dunia. Harga minyak mentah dunia sendiri setelah tahun 2008, telah kembali mengalami penurunan terparahnya sampai menyentuh pada level USD 25/barel pada bulan February tahun 2016 dimana pada saat yang bersamaan Amerika Serikat juga menghentikan kebijakan Quantitative Easingnya. Saat ini harga minyak mentah dunia sedang berada pada  tren kenaikannya dimana sudah menyentuh harga USD 70/barel.

Seiring dengan kenaikan harga minyak dunia saat ini, maka pertumbuhan ekonomi atau PDB Indonesia sedang berada dalam tren kenaikan yang positif sejak tahun 2008, dimana pada tahun 2017 PDB tahunan Indonesia berada pada level 5.12%. Hal ini juga diikuti dengan pengelolaan inflasi yang baik pada level rata-rata 3.6% dan nilai tukar yang stabil pada level IDR 13,700,- oleh Pemerintah dan Bank Indonesia sehingga proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia memiliki outlook yang stabil. Terlebih pada tahun 2017, Standar & Poors sebagai lembaga rating kredit terbesar di dunia akhirnya memberikan rating sebagai negara Investasi dengan outlook stabil untuk Indonesia.

*sebutkan sumber*

Dikarenakan keadaan ekonomi makro Indonesia yang stabil dan juga International Monetary Fund turut memproyeksikan pertumbuhan negara di dunia yang baik dari tahun 2017 sampai dengan tahun 2022, maka kekawatiran akan terjadinya krisis ekonomi sepuluh tahunan pada tahun 2018 tidak akan terjadi sehingga pada akhir tahun 2018 permintaan akan pinjaman akan meningkat signifikan dan Dana Pihak Ketiga (DPK) di lembaga keuangan akan mengalami penurunan. Oleh karenanya mulailah bagi anda pribadi untuk mulai mendanai masa depanmu melalui investasi.

#mendanaimasadepanmu #danamart

June 2018

@dAryo